Ratusan orang memadati pantai wisata Tanjung Papuma di Kecamatan Wuluhan kemaren (10/1).  Mereka menyaksinakn acara larung sesaji yang dilaksanakan para nelayan setempat.  “Kegiatan ini sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Pencipta”, kata Taufik Setyadi, Kepala Perhutani KPH Jember selaku pengelola Papuma.

Acara yang juga dihadiri para wisatawan lokal maupun mancanegara tersebut berjalan dengan sangat meriah. Pasalnya, berbagai hiburan juga disuguhkan oleh penyelenggara kegiatan. Kegiatan dibuka dengan penampilan barongsai dan Liong Tjoe Tik Kiong dari Pasuruan di area parkir pantai Papuma pukul 09.30.

Para pemain barongsai menunjukkan kebolehannya memainkan empat buah barongsai dan seekor liong sekitar 45 menit. Pengunjung dibikin kagum dengan atraksi kesenian dari Tiongkok tersebut. Beberapa kali masyarakat memberikan aplaus atas penampilan atraktif mereka. Apalagi, para pemain barongsai serta liong tersebut masih anak-anak.  Setelah menampilkan barongsai dan liong, panitia juga menyuguhkan atraksi Reog Ponorogo siswo Budho. Reog tersebut berhasil memukau penonton dengan penampilannya selama 45 menit.

Selanjutnya, seremonial larung sesaji dilakukan di Balairung Pantai Papuma dengan sambutan Kepala Perhutani Jember Taufik Setyadi. Lalu, dilakukan doa terhadap sesaji yang akan dilarung.

Dalam sesaji tersebut terdapat dua buah kepala kambing. Artinya ada keseimbangan di dunia. Setelah itu sesaji diarak keliling Papuma bersama dengan perahu kecil yang menjadi tempat sesaji untuk dilarung ke laut nanti. Selain itu, rombongan tersebut juga dikirab dengan barisan hadrah, reog, serta barongsai. Oleh karena itu, suasana kirab lebih meriah dan mampu menarik perhatian pengunjung.

Sesaji tersebut dibawa ke Siti Inggil, tempat tinggi di Papuma untuk dilakukan ritual doa. setelah itu, dibawa melewati pantai Malikan menuju Gua Sri Wulan. Di gua tersebut juga dilakukan hal yang sama seperti di Siti Inggil. Kemudian, setelah ritual pembacaan doa selesai, tepat pukul 12.30 sesaji dilarung ke tengah laut.

Tidak berhenti di situ. setelah acara larung sesaji selesai, pengunjung Papuma juga disuguhi penampilan campursari oleh beberapa penyanyi serta sinden lokal Jember. Acara tersebut ditutup dengan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Eddi Siswanto.

Taufik menjelaskan, larung sesaji adalah ungkapan syukur. Caranya, menyisihkan rezeki untuk menyelenggarakan larung sesaji tersebut. Dengan menyisihkan sebagian rezeki tersebut, masyarakat setempat berharap di tahun-tahun mendatang bisa mendapatkan rezeki yang melimpah dari yang sebelumnya.

Selain itu, lanjut Taufik, larung sesaji itu sejatinya sebagai bentuk ikhtiar agar masyarakat nelayan serta petugas lebih giat bekerja untuk kemajuan Papuma. (jum/mg-2)

Sumber : http://www.kphjember.com
Foto : Humas KPH Jember.